Sunday, May 17, 2009

PENANGANAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
OLEH: RATNA WIDIASTUTI, S.PSI, PSI., MA

PENGANTAR
Ada dua buah iklan mengenai pendidikan yang saat ini seringkali diputar di stasiun-stasiun televisi Indonesia. Yang pertama adalah sepenggal cerita antara sopir angkot dengan penumpangnya yang memotivasi kaum marjinal dengan berkata “Biar bapaknya sopir angkot, anaknya bisa jadi pilot…”. Yang kedua adalah bintang iklan yang bernyanyi “Sekolah gratis ada dimana-mana… Oh senangnya…” Kedua iklan ini menjanjikan kemudahan pendidikan bagi warga negara Indonesia. Hal ini tentu saja membangkitkan optimisme kita untuk menjadikan semua anak “pintar”. Sebab tidak dapat dipungkiri bahwa keberhasilan di bidang pendidikan akan menjadi barometer keberhasilan sebuah negara secara menyeluruh. Warga negara yang terdidik dengan baik merupakan sumber daya yang potensial dalam pembangunan.

Namun demikian, kedua iklan di atas juga menyiratkan adanya fakta bahwa pendidikan di Indonesia belum berpihak pada anak-anak bangsa yang berkebutuhan khusus. Menjadi pilot atau wartawan tentu menjadi pilihan yang terbuka bagi anak-anak normal. Bagaimana pun juga, sulit rasanya membayangkan adanya kebebasan memilih profesi bagi anak berkebutuhan khusus, seperti anak yang mengalami tuna wicara misalnya. Sekolah gratis mungkin hanya dapat diakses kapan saja dan dimana saja oleh anak normal. Proses pembelajaran peserta didik di sekolah umum memang memadai untuk mengembangkan kompetensi anak normal dibidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, maupun sosial. Akan tetapi bagaimana dengan anak berkebutuhan khusus yang memasuki sekolah umum? Misalnya pada anak autis yang membutuhkan terapi wicara atau sensori sebelum dapat memasuki sekolah umum. Apakah biaya terapi anak autis sudah termasuk dalam biaya sekolah gratis, atau orang tua masih harus mencari dan membiayai terapi sendiri? Sebab di Indonesia,baru sedikit sekali sekolah umum yang menyediakan fasilitas bagi anak-anak berkebutuhan khusus ini. Pemerintah baru menyediakan fasilitas dan program pendidikan yang memadai bagi anak berkebutuhan khusus di sekolah khusus/sekolah luar biasa, dan tidak di sekolah negeri/umum. Hambatan belajar pada anak dengan kebutuhan khusus yang memasuki sekolah umum pun biasanya tidak terdeteksi. Hal ini mengakibatkan hambatan pada perkembangan dan proses pembelajaran anak yang bersangkutan. Misalnya pada anak yang mengalami gangguan sensori motorik yang bersekolah di sekolah umum. Gangguan sensori motorik dapat mengakibatkan kesulitan dalam berperilaku seperti sering menabrak teman, menjatuhkan barang, kurang tekanan dalam menulis, atau tidak dapat membaca. Guru, teman, atau orang tua mungkin akan mengeluh dan melabeli anak tersebut dengan sebutan nakal, ceroboh, atau bodoh. Mereka tidak paham bahwa anak sebenarnya mengalami gangguan, sehingga tidak ada upaya penanganan bagi anak. Selanjutnya, jelas dapat ditebak. Anak akan mempunyai konsep diri yang buruk mengenai diri mereka, kurang motivasi belajar/berprestasi, dan mengalami gangguan sosial seperti minder atau menjadi korban bullying atau diejek teman/lingkungan. Semua hal itu akan mengurangi kesempatan anak untuk menjadi “orang sukses” sebagaimana bunyi iklan.

Pendidikan Indonesia, harus diakui, memang kurang adil dalam memberikan kesempatan pendidikan yang seluas-luasnya bagi “seluruh” warga negara, tanpa pengecualian. Kita pernah melihat iklan mengenai keharusan peduli pada ibu hamil dalam melahirkan; juga iklan kepedulian dalam mensukseskan wajib belajar sembilan tahun bagi anak usia sekolah. Akan tetapi bagaimana dengan kepedulian masyarakat terhadap anak yang sudah lahir dengan selamat, namun mengalami hambatan perkembangan; sehingga menghadapi kendala saat mengikuti program wajib belajar sembilan tahun? Anak-anak ini lahir dengan kondisi khusus, seperti keterbelakangan mental, autis, atau kurang mampu membaca danberhitung. Kondisi yang tidak mereka atau orang tua mereka inginkan. Namun mereka tetap berhak mendapatkan pendidikan untuk dapat mengembangkan potensi dan menangani kelemahan dalam diri mereka; sehingga pada akhirnya mereka dapat menjadi pribadi yang mandiri. Mereka adalah anak-anak dengan kebutuhan khusus.

PENGERTIAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang mengalami gangguan dalam bidang intelegensi, fisik, sensori, emosi, atau perilaku, mempunyai gangguan belajar, atau mempunyai bakat khusus. Termasuk didalamnya adalah anak dengan masalah kesehatan mental (misalnya depresi, gangguan bunuh diri), kesehatan medis (misalnya autism, asperger, disleksia, disgrafia, asma), kesulitan proses informasi, gangguan bahasa, kerusakan sensori, dan hidup dilingkungan sulit. Suyanto (2005) menyebutkan bahwa anak berkebutuhan khusus meliputi (1) anak berisiko seperti anak kurang gizi atau ibunya terkena AIDS semasa mengandung, (2) anak cacat seperti buta dan anak dengan keterbelakangan mental seperti anak dengan sindroma Down, Turner, atau Klinefelter, (3) anak berbakat dan cerdas, (4) anak dengan kesulitan perilaku seperti hiperaktivitas, autism, agresif, pemalu/minder, mencuri, cengeng, tergantung, dan fobia.

Deshler (dalam Mercer, 1983) menyebutkan ada empat karakteristik gangguan pembelajaran yang muncul dan memerlukan penanganan pada anak berkebutuhan khusus, yaitu: (1) kekurangan dalam kemampuan akademik dasar seperti membaca/matematika, (2) adanya kelemahan dan kekuatan dibidang sosial, emosional, dan pembelajaran, (3) berkurangnya motivasi dan konsep diri yang buruk, dan (4) sikap yang berlebihan seperti kurang terkoordinir dan hiperaktivitas. Karena itu, penanganan anak berkebutuhan khusus di sekolah pada umumnya akan berkisar pada penanganan hal-hal yang telah dikemukan oleh Deshler tersebut. Setiap anak berkebutuhan khusus akan mempunyai kebutuhan pembelajaran yang spesifik dan unik sesuai dengan kondisi mereka.
Pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus tidak hanya dilakukan oleh guru di kelas. Seluruh staf sekolah, teman di kelas, maupun seluruh keluarga harus terlibat dalam proses pembelajaran ini. Misalnya untuk anak yang mengalami gangguan autis atau disleksia, mereka menjalani terapi khusus di sekolah untuk membantu meningkatkan kemampuan belajar dengan model pemberian hadiah setiap kali mereka berhasil melakukan satu tugas seperti menulis/mengeja. Tugas ini bisa jadi harus terus dilaksanakan di rumah dengan pengawasan orangtua atau pengasuh anak tersebut. Keterlibatan seluruh orang yang berhubungan dengan anak berkebutuhan khusus akan membuat anak lebih proaktif dalam mengatasi masalah (misalnya menghindari bullying), meningkatkan kesadaran seluruh anggota sekolah akan fakta adanya perbedaan individual, meningkatkan ketrampilan dan dukungan dalam belajar/emosi/social pada anak berkebutuhan khusus, dan yang lebih penting adalah terciptanya sebuah situasi yang kondusif dalam mendukung proses pembelajaran bagi semua anak berkebutuhan khusus dalam jangka panjang.


PENYEBAB HAMBATAN PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Ada beberapa penyebab yang membuat anak mengalami hambatan dalam proses pembelajaran mereka. Mercer (1983) menyebutkan gangguan atau hambatan belajar anak berkebutuhan khusus antara lain merupakan akibat dari kurangnya ketrampilan di bidang :
ketrampilan persepsi motorik, seperti gangguan penglihatan (diskriminasi penglihatan) dan motorik (gerakan yang terkoordinir) akan menyebabkan gangguan dalam aktivitas membaca seperti disleksia
ketrampilan psikolinguistik, seperti ketidakmampuan menerima, menghubungkan, dan mengekspresikan bahasa akan menyulitkan anak memahami isi bacaan
multisensori, misalnya kurangnya kurangnya sinergi antara stimulasi gerakan dan rabaan dengan penglihatan menghambat penguasaan menulis,menggambar, atau membuat anak sering menabrak teman
perkembangan, misalnya kesiapan melakukan tugas menulis harus didukung dengan kematangan motorik halus anak
materi yang dipakai, misalnya pada anak cerdas atau berbakat, tentu akan bosan dan tidak termotivasi belajar jika materi tidak menarik
Durand & Barlow (2003) dan Nolen-Hoeksema (2004) menyebutkan penyebab hambatan atau gangguan perkembangan anak antara lain adalah:
genetik, misal kelainan kelainan kromosom menyebabkan autisme
biologis, misal hiperaktivitas ditengarai berkaitan dengan kerusakan otak minimal; gangguan menentang aturan berkaitan dengan ketidakseimbangan serotonin
komplikasi di saat sebelum dan saat kelahiran, misalnya kurang oksigen saat lahir dapat menyebabkan disleksia
lingkungan, seperti hidup didaerah yang terpapar radiasi mengakibatkan cacat mental
Berdasarkan pendapat keempat ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa penyebab hambatan atau gangguan belajar pada anak berkebutuhan khusus antara lain berasal dari dalam dirinya sendiri (genetik, biologis) atau dari luar dirinya (komplikasi kelahiran dan lingkungan).

PENANGANAN UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Gerakan untuk memperjuangkan hak anak berkebutuhan khusus dalam pembelajaran menghasilkan landasan dalam setiap penanganan anak berkebutuhan khusus, yaitu menekankan terapi pada keunikan karakteristik belajar anak yang bersangkutan. Karena setiap individu berbeda dan unik, maka banyak pendekatan yang dapat diterapkan pada anak berkebutuhan khusus sesuai dengan hasil akhir dan keuntungan yang akan diterima anak yang bersangkutan.

Proses pembelajaran anak berkebutuhan khusus menekankan pada perbedaan, bukan ketidakmampuan anak. Tujuan pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus adalah menyediakan dukungan dan bantuan pada peserta didik yang mengalami kesulitan dalam mengakses kurikulum karena adanya gangguan, hambatan, atau sindrom tertentu.

Ada beberapa alternatif program pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus menurut Mercer (1983), yaitu:
(1) sekolah khusus yang ditujukan bagi anak berkebutuhan khusus dengan hambatan belajar berat. Sekolah khusus terdiri atas sekolah khusus umum dan sekolah khusus berasrama. Di Indonesia, pemerintah menyediakan fasilitas pendidikan berupa Sekolah Luar Biasa/SLB. Dengan bersekolah di SLB, anak berkebutuhan khusus mendapatkan keuntungan karena sistem pembelajaran yang telah dirancang khusus untuk meningkatkan potensi anak yang bersangkutan. Anak juga akan mendapatkan dukungan dari kelompok berupa anak lain atau keluarga dari anak lain yang berkebutuhan khusus
(2) kelas khusus/spesial yang ditujukan bagi anak berkebutuhan khusus dengan hambatan tingkat sedang hingga berat. Kelas ini terbagi atas kelas paro-waktu dan sepanjang waktu. Misalnya pada anak autis sedang, mereka dapat mengikuti kelas di sekolah umum selama setengah hari, kemudian di setengah hari berikutnya mereka mendapatkan terapi tersendiri secara individual
(3) kelas umum, yaitu kelas bagi anak berkebutuhan khusus dengan hambatan belajar ringan. Kelas ini dibedakan atas kelas dengan (a) peralatan dan materi khusus, (b) peralatan, materi, dan konsultasi khusus, (c) tutoring, (d) layanan khusus, (e) ruang dengan guru khusus, dan (f) pusat pendidikan diagnosa. Termasuk dalam kelas ini adalah kelas pembauran atau inklusi, misalnya anak dengan kursi roda, autis, disleksia, atau mengalami gangguan perhatian/hiperaktif yang belajar di kelas umum.

Program pembelajaran yang dianggap menunjang pembelajaran anak berkebutuhan khusus dengan hambatan belajar tingkat ringan hingga sedang adalah kelas umum, pembauran, atau inklusi (Mercer, 1983). Program ini dianggap tepat karena anak belajar dalam situasi dan kondisi yang menyiratkan kehidupan normal di luar sekolah apa adanya; sehingga selain anak mencapai keberhasilan dalam bidang prestasi belajar, ia juga dapat mencapai perkembangan sosial, emosi, dan kemandirian secara optimal.

Pada umumnya ada beberapa cara yang dapat dipakai dalam kelas umum/pembauran/inklusi untuk mendukung proses pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus (Benor, 1997; Special Education Service, 2006), seperti:
(1) remediasi,
(2) pembetulan kesalahan dengan segera setelah kesalahan terlihat,
(3) tutorial,
(4) pembentukan ketrampilan khusus, misalnya untuk mempercepat kemampuan menulis diajarkan senam otak,
(5) mengadaptasi, memodifikasi, atau memberikan materi/kurikulum khusus,
(6) membuat beberapa alternatif metode perintah atau penilaian, seperti ujian untuk anak disleksia dilakukan secara lisan atau dengan merekam soal dan jawaban bantuan tape recorder, atau menggunakan alat seperti komputer untuk ujian menulis anak dengan gangguan sensorik motorik,
(7) pelatihan ketrampilan sosial, seperti melatih cara komunikasi jika menginginkan sesuatu atau menghindari perilaku bullying dari lingkungan,
(8) belajar strategi yang efektif dalam pembelajaran, seperti membuat jembatan keledai, membuat peta pembelajaran untuk menghapal,
(9) penambahan waktu atau mengurangi jumlah soal yang akurat dalam melakukan penilaian, misalnya jika ujian dilakukan selama dua jam maka dirubah menjadi satu jam atau 100 soal dikurangi menjadi 70 soal,
(10) kesalahan jawaban yang tidak mendasar tidak mengurangi poin nilai, misalnya untuk anak yang mengalami kesulitan bicara atau menulis dengan menukarkan p dengan b, maka dianggap benar,
Mercer (1983), Durand & Barlow (2003), Nolen-Hoeksema (2004), dan Special Education Services (2006) memberikan garis besar panduan penanganan pada anak berkebutuhan khusus, seperti:
memberikan guru khusus pada anak sesuai kebutuhannya, misalnya terapis okupasi untuk anak dengan gangguan sensori motorik, atau guru piano untuk anak berbakat musik
memasukkan anak pada kelompok yang dibentuk untuk meningkatkan pengalaman diluar pembelajaran kelas seperti kelompok akselerasi/mentoring/pengayaan
pelatihan pengaturan pernapasan misalnya untuk anak gagap dilatih untuk menarik napas dan mengeluarkan dengan perlahan jika mengalami gangguan
pengawasan diri misalnya membuat buku harian untuk meningkatkan emosi positif pada anak dengan asma
pelatihan relaksasi misalnya untuk mengurangi tics (gerakan tidak beraturan yang tidak dapat dikendalikan) pada anak penderita sindrom Tourettes atau cerebral palsy
rantai perilaku (behavioral chaining) untuk pelatihan perawatan diri dasar. Tritmen ini sangat efektif untuk mengajarkan ketrampilan hidup dasar pada anak yang mengalami keterbelakangan mental. Caranya adalah membuat pemecahan dan penghubungan tugas/aktivitas yang saling berurutan/berkaitan dengan urutan yang selalu sama. Misalnya untuk membuat kopi, selalu diberlakukan urutan sama dari memasukkan air ke panci-menyalakan kompor-menaruh gelas di nampan-memasukkan teh-memasukkan gula-menuangkan air mendidih.
pemberian penguatan positif untuk setiap perilaku yang diinginkan, misalnya memberi hadiah coklat atau pujian dan senyuman setiap anak yang hiperaktif mau duduk selama 30 menit atau jika anak dapat menyelesaikan tugas berhitung atau membaca
terapi kognitif-keperilakuan, yaitu merubah cara pandang atau melihat perspektif orang lain, misalnya mengajak anak agresif untuk melihat pikiran orang lain yang tidak menyukai perbuatannya
bicara sendiri, yaitu melakukan pembicaraan positif kepada dirinya sendiri, misalnya melatih anak yang cengeng bicara ”aku senang, aku aman” pada dirinya sendiri jika merasa takut ditinggal keluarga di sekolah
terapi senam otak untuk memperbaiki koordinasi sensori motorik, misalnya untuk anak yang kikuk atau disgrafia
teknik Lovaas yaitu memilih sebuah perilaku yang akan diajarkan pada anak autis, dan terapis membantu anak melakukan aktivitas tersebut dengan memberi contoh, kemudian menyuruh anak untuk melakukannya sendiri, dan jika berhasil maka anak diberi hadiah misalnya boleh memainkan mainan yang sangat dia sukai
terapi bermain, misalnya melakukan kegiatan main boneka untuk menggali perasaan negatif anak yang depresi, atau mengajarkan anak disleksia mengenal huruf dengan menulis dan menggambar di kotak pasir atau bola besar
terapi seni, misalnya menggambar untuk mengurangi kecemasan, menari untuk meningkatkan ketrampilan sensori motorik anak
time out, misalnya jika anak agresif memukul teman atau anak tiba-tiba marah, mereka diminta untuk duduk di kursi dan tidak boleh melakukan apapaun sampai waktu tertentu atau sampai emosi reda

Tritmen-tritmen di atas dapat membantu guru dan orang tua dalam menangani gangguan dan hambatan pada anak berkebutuhan khusus. Masih banyak lagi tritmen yang dapat diberlakukan, dan yang paling utama selama menangani anak butuh adanya kreativitas guru dan orang tua dalam memberikan tritmen yang sesuai dengan kondisi anak, bersifat mengembangkan potensi yang sudah ada pada anak, kekonsistenan orang-orang di sekitar anak dalam memberlakukan tritmen, dan suasana hati atau emosi anak harus positif atau anak tidak stress dalam menjalaninya.

PERAN GURU DALAM PENANGANAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Guru merupakan orang yang berperan penting (significant others) dalam proses pembelajaran anak. Kode etik guru menyatakan adanya kewajiban pada guru untuk meningkatkan kompetensi semua peserta didik secara objektif, tanpa membedakan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu peserta didik dalam pembelajaran. Karena itu jelas semua guru harus berusaha mengakomodasi peserta didik berkebutuhan khusus di kelas. Namun tidak dipungkiri bahwa menangani pembelajaran peserta didik berkebutuhan khusus ini membutuhkan tenaga, waktu, atau kreativitas yang lebih banyak dibanding menangani peserta didik normal. Hal ini tentu akan memicu stress bagi guru yang bersangkutan. Karena itu, guru perlu mempunyai ketrampilan khusus dalam kelas, seperti manajemen kelas untuk mengatasi kelas yang terganggu oleh ulah murid hiperaktif/agresif, atau relaksasi setiap kali frustasi pada kelambatan dalam proses belajar peserta didik autis atau disleksia.
Kondisi masyarakat yang kurang memahami perkembangan anak membuat anak berkebutuhan khusus tidak tertangani secara dini. Umumnya, deteksi dini gangguan pada anak baru terjadi setelah anak memasuki sekolah dasar; yaitu pada saat guru mengamati adanya perbedaan peserta didik dalam pembelajaran atau perilaku dibanding dengan teman di kelas. Karena itu maka penting bagi seorang guru untuk dapat memberikan tanggapan atas perbedaan peserta didik. Mercer (1983) berpendapat bahwa sebelum mengajar, guru harus:
(1) mampu memahami bagaimana sebuah hambatan pada diri peserta didik dapat mempengaruhi hasil belajar, misalnya bagaimana gangguan sensori motorik dapat membuat anak sulit menggambar bentuk tertentu di kelas kesenian, anak dengan gangguan hernia atau asma akan sakit jika lari atau melakukan loncatan di kelas olahraga
(2) mengenali hambatan dan mengembangkan pengalaman belajar yang tersendiri, misalnya untuk anak autis atau disleksia diajari kata benda dengan melemparkan bola yang berisi kata timbul benda atau membuat bentuk dari benda yang dipelajari
(3) memberikan perintah yang bersifat pribadi bagi anak berkebutuhan khusus misalnya mendekati tempat duduk peserta didik dengan gangguan pendengaran, memberi perintah duduk sambil menuntun anak hiperaktif duduk
(4) memahami emosi pada peserta didik yang mengalami hambatan seperti sedih atau marah jika tidak dapat mengerjakan tugas di kelas, atau diejek karena kurang menguasai beberapa ketrampilan yang sudah dikuasai teman-temannya
(5) menggunakan layanan dan dukungan dari pihak mana pun, misalnya memberikan pekerjaan rumah yang melibatkan bantuan orang tua atau teman dalam mengajarkan materi tertentu, atau mengikutkan peserta didik yang pencemas atau cengeng dalam ekstrakulikuler menari yang dapat membantu meningkatkan endorphin sehingga emosi anak akan lebih positif
(6) mengkomunikasikan hambatan peserta didik pada orang tua secara efektif sehingga orang tua dapat menerima kondisi anak dengan baik, tidak cemas atau malah marah berlebihan, dan dapat bekerja sama menangani anak yang bersangkutan
Jika guru mencurigai adanya hambatan atau kondisi khusus pada peserta didik, maka ia harus melakukan penilaian secara mendalam. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan beberapa variasi metode pembelajaran, memberikan instruksi atau materi dengan cara berbeda. Kemudian, guru harus mendiskusikan keadaan anak dengan orang tua, kepala sekolah, dan konselor sekolah. Kemudian bersama konselor/guru bimbingan konseling di sekolah, guru melakukan program layanan intervensi dan pencegahan untuk meningkatkan perkembangan anak, termasuk diantaranya kepercayaan diri, tanggung jawab, kemandirian, juga ketrampilan sosial dan komunikasi.
Selanjutnya, guru membuat sebuah rencana pembelajaran khusus (individualized educational program/IEP) bersama dengan konselor dan orang tua. IEP harus menyatakan tingkat kemampuan anak saat itu, tujuan insruksional per semester dan tahunan, layanan khusus dan partisipasi kelas regular, tanggal dan lamanya pelaksanaan setiap proyek pembelajaran, dan kriteria prosedur, evaluasi, dan jadual penilaian kemajuan peserta didik. Rencana pembelajaran ini bisa jadi sangat berbeda dengan rencana pembelajaran anak normal. Misalnya, untuk anak dengan keterbelakangan mental, bisa jadi ia tidak dapat menjadi pilot atau wartawan, tapi dapat menjadi office boy. Maka disusunlah rencana pembelajaran dengan berlandaskan hasil observasi, telaah hasil belajar, konsultasi interdisipliner dengan psikolog atau dokter misalnya), wawancara, serta penilaian perkembangan, kekuatan dan kelemahan dalam proses belajar serta sosial/fungsi adaptasi anak yang bersangkutan. Tujuan akhir dari pendidikan adalah peserta didik dengan keterbelakangan mental harus menguasai penambahan/pengurangan/perkalian/pembagian, membaca, membersihkan ruang, dan berkomunikasi sederhana termasuk menerima perintah. Dari sini, guru dapat membuat IEP berisi keterangan mengenai keadaan peserta didik yang sama sekali belum menguasai apa-apa, tujuan instruksional pada kelas 1 semester 2 adalah membuat garis _, /, dan l, diberi kegiatan senam otak bersama teman di kelas untuk meningkatkan kemampuan organisir tubuhnya, dan penilaian dilakukan setiap akhir bulan secara individual bukan klasikal.
Berikut ini adalah salah satu contoh daftar yang dapat digunakan oleh guru dalam melakukan observasi pada peserta didik (diambil dari Mercer, 1983):
PANDUAN OBSERVASI GURU
Nama __________________________ Kelas ________________ Tanggal Lahir ________________
Daftar identifikasi di bawah ini akan membantu menganalisa hambatan pada anak berkebutuhan khusus. Berikan nilai 0-5 untuk masing-masing aitem. Nilai 0 menunjukkan tidak ada hambatan, nilai 1 sedikit hambatan, dan nilai 5 sangat terhambat. Perhatikan bahwa kriteria yang disebut dibawah ini sangat berkaitan dengan umur anak yang bersangkutan. Jika menemukan hambatan yang termasuk parah, tandailah aitem tersebut.
_____ adanya kesenjangan antara kemampuan dengan prestasi
_____ kesulitan beraktivitas diiringi irama
_____ kesulitan menilai ukuran, bentuk, atau jarak
_____ kikuk, tidak seimbang
_____ sulit menyelesaikan tugas yang membutuhkan koordinasi
_____ binggung membedakan bagian tubuh kiri dan kanan
_____ terbolak-balik huruf atau satu kata saat membaca
_____ terbolak-balik huruf, kata, atau angka saat menulis
_____ binggung membedakan bentuk penulisan huruf, kata, atau angka
_____ binggung membedakan pengucapan huruf, kata, atau angka
_____ kehilangan satu huruf atau satu kata saat membaca atau menulis
_____ sulit mengenali kata yang umum digunakan dalam konteks yang berbeda
_____ gambar tidak beraturan,tidak teratur dan detil
_____ sulit mengingat ide, fakta, atau hokum
_____ sulit belajar fakta seperti menghapal nomor telpon atau alamat
_____ sulit belajar serial, seperti abjad
_____ mudah melupakan apa yang didengar atau dilihat
_____ binggung arah, sulit mengikuti petunjuk arah
_____ sulit memahami konsep waktu
_____ mendapat nilai baik dimata pelajaran tertentu namun nilai buruk dimata pelajaran lainnya
_____ sulit menulis atau menggambar. Sulit menirukan pelajaran di papan tulis
_____ kemampuan matematika satu kelas dibawah kemampuan kelas yang sesungguhnya
_____ kemampuan membaca satu kelas dibawah kemampuan kelas yang sesungguhnya
_____ kesulitan melihat kata
_____ tidak mengetahui inti bacaan
_____ kemampuan mengeja satu kelas dibawah kemampuan kelas yang sesungguhnya
_____ berpikir lambat, lambat dalam menanggapi pertanyaan atau perintah
_____ kemampuan abstraksi dan penalaran rendah
_____ prestasi tidak beraturan dari satu jam ke jam berikutnya, dari satu hari ke hari berikutnya
_____ jarak perhatian pendek, sulit berkonsentrasi
_____ impulsif, menanggapi tanpa memikirkan akibat
_____ mudah terganggu cahaya atau suara, memperhatikan segala sesuatu
_____ sulit memfokuskan perhatian
_____ mengulang gerakan atau tugas yang tidak lagi tepat
_____ hiperaktif, aktivitas berlebihan
_____ toleransi terhadap frustasi rendah, mudah menyerah
_____ penilaian sosial dan hubungan interpersonal kurang
_____ kurang dapat menyesuaikan diri pada perubahan/hal baru
_____ pertukaran dari satu emosi ke emosi lain dengan cepat dan tanpa alasan
_____ juling kedalam atau keluar
_____ bicara tidak beraturan, kehilangan atau kelebihan kata (gagap, latah)
_____ mudah lelah oleh aktivitas mental/berpikir

Tanda tangan guru tanggal ____________
__________________________________________________________________________________________________selesai

PERAN TEMAN SEBAYA DALAM PENANGANAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Anak berkebutuhan khusus pada akhirnya nanti harus dapat mengembangkan potensi diri dan mandiri dalam masyarakat umum sebagaimana anak-anak normal lainnya. Interaksi dengan teman sebaya merupakan awal dari keterlibatan anak berkebutuhan khusus didunia nyata saat dewasa nantinya. Jika teman sebaya dapat menjadi rekanan yang mendukung, maka anak berkebutuhan khusus akan semakin mengembangkan kepercayaan diri dan potensi diri. Beberapa kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan proses pembelajaran anak berkebutuhan khusus akan semakin efektif jika melibatkan kerjasama atau umpan balik dari temannya. Misalnya penanganan anak agresif atau hiperaktif melalui permainan manajemen kelas, atau pendampingan dalam program prevensi bagi anak asma atau berkecenderungan bunuh diri.

PERAN ORANGTUA/KELUARGA DALAM PENANGANAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Mengetahui kenyataan bahwa buah hati kita menderita gangguan dan tidak dapat berfungsi normal tentu menjadi beban dan sumber stres yang besar dalam hidup.Tidak jarang orang tua mengingkari kenyataan yang ada tersebut. Beberapa orang tua mungkin malah menjadikan hal ini sebagai sumber pertengkaran keluarga. Orang tua dapat melakukan berbagai cara untuk menurunkan stres. Misalnya melakukan relaksasi, meditasi, mencari dukungan pasangan/keluarga, mengikuti terapi kelompok, atau berbagi rasa dengan orang tua-orang tua lain yang mengalami masalah sama. Dengan demikian orang tua dapat segera berkonsentrasi pada pencarian informasi mengenai gangguan dan terapi atau perlakuan khusus; sehingga anak mereka tetap dapat berkembang optimal, dan pada akhirnya nanti dapat hidup secara mandiri.
Jika keadaan anak berkebutuhan khusus diketahui setelah anak memasuki sekolah, maka orang tua mempunyai hak berupa mendapatkan pemberitahuan mengenai program yang diberlakukan pada anak, kemajuan yang dicapai, perubahan-perubahan yang dialami, menyetujui atau menolak program atau pengukuran yang diberlakukan pada anak, dan privasi yang terjaga.

Orang tua harus aktif mencari informasi dan melaksanakan program yang membantu perkembangan anak berkebutuhan khusus. Keterlibatan keluarga dalam intervensi anak berkebutuhan khusus akan memberikan keuntungan jangka panjang (Brofen-brenner dalam Mercer 1983). Orang tua dapat menjadi agen yang efektif dalam membantu proses pembelajaran anak bekebutuhan khusus. Orang tua dapat menerapkan pembelajaran di rumah mengikuti rencana pembelajaran yang telah disusun di sekolah atau membuat penanganan tersendiri yang sesuai dengan kondisi khusus, keunikan, kekuatan, dan kelemahan anak.

KESIMPULAN
Anak berkebutuhan khusus merupakan fenomena nyata dalam kehidupan kita. Fakta bahwa seringkali mereka belum mendapatkan penanganan maksimal seharusnya menumbuhkan kepedulian untuk mengembangkan potensi dan menumbuhkan kemandirian mereka dengan dukungan sepenuhnya dari keluarga dan sistem pendidikan. Hasil penanganan yang paling optimal akan memuaskan jika dilakukan intervensi pada anak berkebutuhan khusus sejak dini. Masa kanak-kanak merupakan masa kritis dan penting karena perkembangan di bidang sosial, emosi, kognitif, maupun area kompetensi lainnya pada masa ini akan menjadi landasan perkembangan berikutnya hingga dewasa. Jika terjadi gangguan atau hambatan di masa perkembangan awal, sudah barang tentu akan mengganggu akan menghambat perkembangan berikutnya. Karena itu sudah selayaknya kita semua ikut berperan serta dalam penanganan anak berkebutuhan khusus di sekotar kita untuk menggapai masyarakat dan masa depan bangsa yang lebih baik.

PUSTAKA:
Benor, T.1997. Students with Special Needs-Helping Them & Ourselves diakses dari http://www.anglit.net/ pada 26 April 2009
Durand, V.M. & Barlow, D.H. 2003. Essentials of Abnormal Psychology. 3rd. California: Wadsworth-Thomson Learning
Mercer, C.D. 1983. Students with Learning Disabilities. 2nd. Ohio: A Bell & Howell, Co.
Nolen-Hoeksema, S. 2004. Abnormal Psychology. 3rd. New York: McGraw-Hill Company, Inc
Special Education Service. 2006. A Manual of Policies, Procedures and Guidelines Columbia: BC Ministry of Education
Suyanto, S. 2005. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

4 comments:

Hayyullah M. Wahyu Endriharto said...

Subhanalloh, allahu akabar,
dik ratna dik entik,Subhanalloh, allahu akabar,
dik ratna dik entik, mampir ke situsku [www.endriharto.fiz.su] ya . . . kangen aku,
ketika ALLAH membimbingku malam ini untuk ngeklik gogle, sesuungguhnya waktu sangat terbatas, dan akan sirna, aku minta maaf atas semua salahku... aku sempat menangis menemukan blog-mu dik . . .

Hayyullah M. Wahyu Endriharto said...

tolong hub aku di 085235809250 atau di 0819 464 23459 mana yang bisa nyambung dulu ya . . .

WAHYU ENDRIHARTO said...

masya allah, dik . . kenapa lama banget buka blognya .. saat ini aku di magetan, PAKDE KU meninggal, dan ada juga yang sakit. Saat inilah aku pikir untuk menjalankan ilmu "kita" 1. SADAR 2. IMAN 3. TAAT kepada SANG MAHASUCI. Ketika orang yang kita cintai tidak ada lagi, itu adalah salah kan . . . Ternyata ALLAH telah menunggu kita di DARUSSALAM... Tempat yang indah untuk yang mencintai dan dicintai . . .

WAHYU ENDRIHARTO said...

ketika. . .
ALLAHU AKBAR KATSIRAU WALKHAMDU LILLAHI KATIRO WASUBHANALLOHI BUK ROTAU WA ASIILA, semua anggota tubuhku pernah lemes.... aku sadar ternyata "tempat"ku bukan disini...
mengapa aku jadi tertuju kepada yang tidak abadi...? indahnya waktu itu adalah ketika aku berdoa untuk ALAM, mendidik AGENG jadi ahli masjid, dan ARUM yang sekarang kelas 3 SD sudah jus 8, dan apa maksud allah menuntunku jam 1 malam menemukan blogmu, selain adalah TAAT KITA BERSAMA IMAN YANG AKAN MENOLONG KITA DALAM CINTA YANG SESUNGGUNGHYA DAN ABADI. Maaf aku curhat, dan aku merasa perlu minta maaf, karena th 1994 pernah pegel nggoleki di pesantren mahasiswa ga ketemu... kan pengen curhat..